Sabtu, 31 Mei 2014

POTRET PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1: Potret Pembelajaran di Sekolah Dasar
A.  Sarana Dan prasarana
Hal-hal yang menjadi sumber terbatasnya sarana dan prasarana SD di daerah terpencil, antara lain:
1.  Letak geografis yang jauh sehingga butuh waktu dan alat transportasi yang memadai untuk menjangkaunya.
2.  Kekurangsinkronan informasi antar instansi yang terkait. 
3.  Peristiwa bencana alam.
4.  Sarana yang ada tidak mampu menampung banyaknya jumlah siswa. 
5.  Kurangnya motivasi usia produktif untuk bersekolah karena keterbatasan sarana, dukungan keluarga dan ketidakramahan alam.
Upaya yang harus dilakukan adalah penyelesaian secara komprehensif dengan menyadarkan pentingnya pendidikan dengan melibatkan orang tua dan para tokoh masyarakat.
B.  Metode Pembelajaran
Pembelajaran di SD harus selalu menarik dan membuat siswa tidak berpikiran secara verbal. Diperlukan penggambaran yang konkret dan mudah diingat siswa. Guru harus bisa memiliki metode yang tepat sehingga mampu memberikan suasana kondusif dalam pembelajaran, dengan tetap mengutamakan keterserapan materi yang disampaikan.
Ada beberapa alasan mengapa guru belum kompeten, yaitu:
1.  Waktu kuliah belum menguasai bahan pelajaran, sehingga yang menjadi guru bukan lulusan yang terbaik.
2.  Beberapa guru mengajarkan bukan bidang yang dikuasainya. Misalnya guru olahraga mengajarkan IPA.
3.  Masih banyak guru yang mengajar hanya menggunakan model yang itu-itu saja, karena kurang menguasai berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak.
4.  Guru mengajar lebih senang dengan caranya sendiri dan kurang memperhatikan yang disenangi anak.
C.  Ketidak merataan Jumlah Guru
Guru di Indonesia belum merata antara di daerah terpencil dan di kota. Dari segi kuantitas telah memadai namun tidak demikian dengan sisi pemerataan dan kualitasnya. Banyak daerah yang kelebihan guru tetapi banyak pula daerah yang kekurangan guru.
Kegiatan Belajar 2: Pembaharuan Pembelajaran yang Diterapkan di SD
A.  Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah salah satu strategi pembelajaran yang berhubungan dengan:
1.     Fenomena kehidupan sosial masyarakat, bahasa, lingkungan hidup, harapan dan cita yang tumbuh.
2.     Fenomena dunia pengalaman dan pengetahuan siswa.
3.     Kelas sebagai fenomena sosial.
Pembelajaran kontekstual didasari oleh konsep kontruksivisme, artinya pengetahuan siswa didapat dari pengalaman-pengalaman yang dilakukan siswa. Pembelajaran ini akan membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada 7 komponen utama pembelajaran efektif, yaitu:
1.     Kontruksivisme (contruktivism)
2.     Bertanya ( questioning)
3.     Menemukan (inquiry)
4.     Masyarakat belajar (learning community)
5.     Pemodelan (modeling)
6.     Penilaian sebenarnya (authentic assesment)

B.  PAKEM
PAKEM merupakan strategi pembelajaran yang partisipasif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Siswa dibuat nyaman, tidak takut bertanya, tidak tegang dalam menyimak penjelasan guru dan tidak kesulitan untuk menyerap materi yang diberikan. Segala aktivitas yang dilakukan harus berpusat pada siswa. PAKEM mengutamakan pendekatan kontekstual (lebih menekankan pada proses elaborasi, eksplorasi dan imitasi) dan apresiasi (melalui tahapan-tahapan mengenal, menikmati, menanggapi dan merekreasi)
PAKEM dalam perspektif guru:
Aktif                 : memantau kegiatan belajar siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang dan mempertanyakan gagasan siswa.
Kreatif              : mengembangkan kegiatan yang beragam dan membuat alat bantu belajar sederhana.
Efektif              : pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran.
Menyenangkan   : siswa tidak takut salah/ ditertawakan/ tidak dianggap sepele.
PAKEM dalam perspektif siswa:
Aktif                 : aktif bertanya, mengemukakan gagasan dan mempertanyakan gagasan orang lain serta gagasannya.
Kreatif              : merancang/ membuat sesuatu dan menulis/ mengarang.
Efektif              : menguasai keterampilan yang diperlukan.
Menyenangkan   : siswa berani mencoba, berani bertanya/ mengemukakan pendapat/ mempertanyakan gagasan oranglain.
PAKEM dinilai berhasil jika di kelas terjadi interaksi antara guru dan siswa.
C.  Pembelajaran Kooperatif dan Kolaboratif
Yaitu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Misalnya kelompok siswa tinggi, sedang, rendah, berbeda ras, budaya, suku dan kesetaraan jender. Pembelajaran ini mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran ini adalah hasil belajar akademik siswa meningkat, siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya dan pengembangan keterampilan sosial.
Serangkaian persiapan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif dan kolaboratif yaitu:
1.  Pembelajaran berbasis masalah
2.  Pemanfaatan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar
3.  Pemberian aktivitas kelompok
4.  Pembuatan aktivitas belajar mandiri
5.  Penerapan penilaian autentik


Poskan Komentar